“ GURU HARUS PROFESIONAL DALAM PROFESI “

Diposting pada

Profesional dalam profesi guru perlu ditingkatkan , jika kita mencintai profesi kita tentunya dengan rasa cinta pula kita mengajar dan mendidik peserta didik dengan sepenuh hati, sepenuh jiwa dan sepenuh raga serta terus menerus mengupayakan untuk mencerdaskan anak-anak bangsa Calon “ agent of change “ yang akan menjadi pemimpin masa depan dinegeri ini. 

Sebagai kepala sekolah selayaknya memiliki leadership dominan, sehingga pengelolaan sekolah dapat berjalan dengan baik dalam pencapaian harapan bersama. Sebagai guru terutama yang merupakan ujung tombak selayaknya tombaknya harus selalu runcing jika sudah merasa tumpul segera meruncingkan diri dengan meng-upgrade diri dengan berbagai kemajuan jaman sebab kita harus adaptif dalam menyikapi kondisi global yang begitu pesat berkembang. 


Guru itu harus dinamis bukan statis ,mampu berlari mengikuti perkembangan dunia pendidikan yang bahkan kadang kita perlu meloncat sebatas kemampuan dalam rangka adaptasi tehnologi dunia pendidikan masa kini.

Jangan merasa menjadi seperti buah yang sudah “ matang “, maka jika anda merasa seperti itu, anda tidak akan butuh lagi untuk mematangkan diri, sehingga hanya menunggu  busuk “.Tetapi jadilah pribadi yang seperti  buah mentah “, sehingga setiap saat, setiap waktu dan setiap kesempatan akan selalu berusaha untuk mematangkan diri dalam keilmuan, 

pengetahuan dan ketrampilan didalam mengajar dan mendidik peserta didik. Sehingga guru tidak akan pernah ketinggalan dari kemajuan yang telah dilakukan oleh peserta didik, ataupun ketinggalan dalam ruang lingkup regional dalam mensejajarkan dengan tingkat nasional bahkan internasional. Stakeholder di sekolah harus memiliki daya juang yang tinggi dan tidak mudah menyerah baik didalam menghadapi intern maupun ekstern sekolah.Sebab tidak ada problematika yang tidak ada jalan keluarnya selama kita masih memiliki kemauan untuk mencari jalan keluarnya. 

“ GURU HARUS PROFESIONAL DALAM PROFESI “


Baca Juga Tentang : Sebanyak 798 Orang Guru yang dikirim ke Daerah Terpencil langsung Jadi CPNS


Bagimana menjadi guru profesional ? Kriteria-kriteria Guru Profesional :


  1. Menumbuhkan inovasi belajar-mengajar dalam rangka meningkatkan mutu pendidikan di sekolah.
  2. Memotivasi atau mendorong kegiatan anak didik dalam meningkatkan aktifitas dan kreatifitas sesuai dengan bakat, cita-cita,potensi diri dan kemampuan yang dimilikinya..
  3. Energik dan selalu menciptakan tehnik-tehnik belajar-mengajar yang cepat, tepat dan mudah dipahami serta tidak membosankan.
  4. Kooperatif dan aspiratif terhadap keluhan anak didik yang mengalami masalah-masalah dengan segera dibantu, dipecahkan dan dicarikan solusi yang terbaik .
  5. Menciptakan suasana belajar-mengajar yang menyenangkan, menarik dengan menggunakan multi media, in focus, OHP atau teaching aids lainya.
  6. Mampu adaptasi terhadap perkembangan dunia pendidikan sesuia kemajuan jaman.
  7. Memiliki kompetensi sesuai dengan disiplin ilmunya .
Tujuan inovasi pendidikan adalah meningkatkan efisiensi, relevansi, kualitas dan efektifitas,sarana serta jumlah pendidikan sebesar-besarnya ( menurut cerita kebutuhan peserta didik, masyarakat dan pembangunan ) dengan menggunakan sumber,tenaga,uang,alat dan waktu dalam jumlah yang sekecil-kecilnya.Tahap demi tahap arah tujuan inovasi pendidikan indonesia :

  • Mengajar ketinggalan – ketinggalan yang dihasilkan oleh kemajuan –kemajuan ilmu dan tehnologi sehingga makin lama pendidikan di Indonesia smakin berjalan sejajar dengan kemajuan tersebut.
  • Mengusahakan terselenggaranya pendidikan sekolah maupun luar sekolah bagi setiap warga negara. Misalnya meningkatkan daya tampung usia sekolah SD,SLTP,SLTA dan Perguruan Tinggi.

MENUMBUHKAN INOVASI BELAJAR-MENGAJAR.

Seorang guru harus memiliki kemampuan untuk mengembangkan proses belajar mengajar sedemikian sehingga lebih inovatif, tidak monoton begitu-begitu saja.Memiliki kreatifitas yang tinggi dalam menumbuhkan inovasi belajar-mengajar sehingga anak didik tidak “jemu” atau membosakan. 

Jangan hanya mengajar hanya dengan satu media yaitu papan tulis ( whiteboard ) dengan menggunakan spidol ( kapur ) satu warna. 


Bagaimana bisa untuk mem-pintarkan anak didik jika hanya menggunakan spidol ( kapur ) hanya satu warna? .Sedangkan anak didik memiliki karakteristik gaya belajar variatif. Sungguh bagi anak didik yang memiliki karakteristik gaya belajar visual,auditory dan kinestetik akan mengalami kesulitan dalam menerima ( merekam ) pelajaran yang diajarkan oleh guru saat itu. 


Ini berarti guru tidak menguasai pengetahuan gaya belajar anak didiknya. Ingat, anak didik memiliki karakteristik gaya belajar yang berbeda-beda didalam satu kelas. Sehingga guru harus bisa menggunakan pembelajaran yang lebih efisien dan efektif, dalam rangka “ mentransfer” materi pelajaran yang diajarkan saat itu. Maka dari itu guru harus lebih tahu tentang karakteristik gaya belajar anak didik. Apakah mereka memiliki karakteristik gaya belajar ?. 


Untuk mengetahui ini maka penulis akan menjelaskan di Kunci berikutnya. Selain memiliki karakteristik gaya belajar tersebut, maka guru juga harus memperhatikan penggunaan Otak Kanan atau Otak kiri anak didik. 


Jika didalam kelas sudah diketahui gaya belajar anak didik, maka akan diputuskan menggunakan metode pembelajaran seperti apa. Tergantung mayoritas karakteristik gaya belajar anak didik itu yang diutamakan, sehingga pembelajaran lebih mengena sasaran ( tepat guna ) dalam mentransfer materi pelajaran. 


Namun kita tidak mengesampingkan karakteristik gaya belajar yang minoritas. Tetap diperhatikan juga pembelajaran bagi yang minoritas. Jika guru sudah mengetahui karakteristik gaya belajar anak didik , sudah pasti bisa menentukan metode pembelajaran dan menggunakan media pembelajaran yang sesuai dengan karakteristik anak didiknya.

MERANCANG PEMBELAJARAN YANG INOVATIF.

Baca Juga Tentang : Guru Belum S1 Dilarang Mengajar , Batas Akhir Desember 2015

Proses pembelajaran merupakan siklus dari tiga tahapan, yaitu dan.Ketiga tahapan ini jika dilakukan secara berkelanjutan dan berbentuk spiral dengan ketiga tahapan tersebut sebagai tiang utama, maka kualitas pembelajaran akan meningkat sekaligus kualitas hasil belajar anak didik juga akan meningkat. 

Ketiga tahapan tersebut merupakan siklous yang tidak dapat dipisahkan, perencanaan ditentukan oleh refleksi, refleksi menggunakan data yang dihasilkan dari pelaksanaan, dan pelaksanaan merupakan ekspresi dari perencanaan.


Dalam menyusun rencana pembelajaran, pertama-tama guru akan menentukan tujuan pembelajaran. Berdasarkan tujuan tersebut ditentukan cara mengajar (metode/strategi/ metode/pendekatan/teknik) untuk mencapai tujuan pembelajaran yang telah ditetapkan. 


Guru juga menentukan cara menilai keterlaksanaan tujuan pembelajaran. Dalam melaksanakan pembelajaran menggunakan cara yang dipilih, akan ditentukan media, sumber belajar, alat dan bahan, yang diperlukan. 


Rencana pembelajaran yang disusun guru didasarkan tidak hanya pada standar isi semata (standar kompetensi dan kompetensi dasar) tetapi juga ada variabel lain yang dijadikan pertimbangan. Variabel-variabel yang juga menentukan mutu rencana pembelajaran adalah 
  1. Data hasil belajar siswa,
  2.  Refleksi siswa, Refleksi guru, 
  3. Teori dan filosofi pembelajaran yang dikuasai guru,
  4.  Konteks kurikulum, 
  5. Temuan IPTEK terkini yang diketahui guru,
  6.  Isu saat ini, 
  7. Kondisi siswa, 
  8. Kondisi sekolah. 

Dari 8 variabel di atas paling tidak ada tiga variable yang penting dan paling menentukan kualitas rencana pembelajaran, yaitu data hasil belajar siswa, refleksi siswa, dan refleksi guru. Dalam inkuiri mengajar data hasil belajar siswa, refleksi siswa, dan refleksi guru yang dikumpulkan selama proses pembelajaran, akan dianalisis untuk menjawab hipotesis. 

Sebagai contoh, jika hasil belajar dicapai oleh siswa secara optimal berarti rencana pembelajaran yang telah dirancang dan diterapkan merupakan cara yang tepat dalam mengajar. 


Sebaliknya, jika hasil belajar tidak optimal berarti rencana pembelajaran perlu diperbaiki. Jadi, data hasil belajar siswa, refleksi siswa, dan refleksi guru variabel utama yang menentukan perkembangan kualitas pembelajaran. 


Data untuk menjawab pertanyaan/hipotesis dalam rencana pembelajaran bukan hanya hasil belajar siswa, tetapi juga refleksi guru dan refleksi siswa. 


Rencana pembelajaran sebenarnya berisikan prediksi guru terhadap situasi pembelajaran. Sebagai contoh, pada rencana pembelajaran guru merencanakan mendemonstrasikan perilaku bernapas ikan di air yang diberi deterjen dengan konsentrasi yang semakin meningkat.


Dari demonstrasi ini diharapkan siswa dapat menyusun pernyataan bahwa respirasi ikan akan meningkat berkaitan dengan peningkatan konsentrasi deterjen. Pada saat demonstrasi ini diterapkan dalam pembelajaran, terdapat tiga kemungkinan kejadian; 

  1. respons siswa sesuai prediksi guru, 
  2. sebagaian sesuai, 
  3. atau tidak ada satupun siswa yang sesuai prediksi guru. 

Situasi seperti ini tentu perlu dicatat guru untuk dua kepentingan. 

  1. Kepentingan pertama adalah untuk digunakan sebagai dasar pengambilan keputusan perubahan strategi dalam pembelajaran; 
  2. kedua, dijadikan bahan refleksi untuk perbaikan rencana pembelajaran yang akan digunakan selanjutnya. 

Oleh sebab itu sebuah rencana pembelajaran yang pada dasarnya berisikan prediksi guru, menuntut guru untuk mengidentifikasi kemungkinan respons siswa sehingga guru dapat mengambil tindakan secara cepat dan tepat. Semoga guru – guru di negeri ini bisa menjadikan dirinya profesional dalam profesi dan mencintai profesi bukan semata-mata gaji. Ingat, generasi anak bangsa ditentukan oleh upaya guru dalam mengajar dan mendidik anak didik di sekolah.

Tinggalkan Balasan

Alamat surel Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.